Info Pendidikan:
Home » » AKU BANGGA DENGAN UNIVERSITAS TERBUKA, KAMU?

AKU BANGGA DENGAN UNIVERSITAS TERBUKA, KAMU?

Written By Siti Nurjanah on Sabtu, 27 Juni 2015 | 06.58

Semua indah pada masanya. Bukan aku menyombongkan diri, bila aku katakan bahwa aku pernah mengenyam perkuliahan dan akhirnya mengantongi dua ijazah dari dua Perguruan Tinggi ternama di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Kesempatan kuliah dengan mendapat beasiswa dari pemerintah membuatku makin serius menjalani hari-hari masa kuliahku di tahun 1988. Begitu pula ketika kesempatan dan fasilitas yang sama kembali aku dapatkan di tahun 2008. Itulah jalan hidup pendidikan formal yang aku lalui.
Jeda antara tahun 1988-2008 terdapat hal yang menurutku sangat berarti dalam lingkaran hidup pendidikanku.
Tahun 1993. Itulah tahun pertama  aku melaksanakan tugas pemerintah sebagai seorang guru Biologi di SMA Negeri Rembang. Aku terus belajar sedikit demi sedikit dari lingkungan tempat aku bekerja. Apapun tugas yang diberikan oleh atasan, aku laksanakan dengan senang hati sambil terus belajar dengan para seniorku. Hingga pada saat itu kepaka sekolah menunjukku untuk ikut serta dalam perekrutan tutor daerah akupun dengan senang hati melaksanakannya. Berbekal dari nasehat beliau, bahwa aku harus dapat menyesuaikan sekaligus menempatkan diri sehubungan dengan tugasku adalah memberikan tutorial pada mahasiswa yang usianya jauh lebih tua dari aku.
Ya, mahasiswaku adalah PNS yang terdiri dari kepala sekolah dan penilik/pengawas TK/SD. Acara rutin mulai jam 07.30 WIB sampai jam 16.00 WIB di hari Mingguku adalah menemani mereka belajar di Pokjar Bulu, suatu daerah pinggiran wilayah Rembang. Aku selalu mengatur waktu setidaknya 30 menit sebelum tutorial dimulai sudah berada di lokasi. Aha! Bukan karena sok tertib, namun keadaanlah yang menuntutku menyikapi seperti itu. Jarak tempuh 20 kilometer dengan medan yang berliku membuatku menjatuhkan pilihan untuk naik bis umum. Aku yang “raja mabuk” kendaraan harus  “menormalkan diri” lebih dahulu sebelum melaksanakan tugas. Jangan khawatir, 20-30 menit kemudian aku kembali baik, dan siap memberikan tutorial.
Tidak hanya aku, mahasiswaku juga bersemangat dalam melaksanakan tutorial karena dalam satu kelas kami saling akrab. Ketika jeda, beberapa diantara mereka mengatakan bahwa aku seusia anak-anak mereka. Bahkan ada diantara mereka mengatakan: “Kami dalam satu keluarga semua belajar dengan Bu Nur!”. Maklumlah, mereka suami istri dalam kelas tutorial dan putranya adalah siswa SMA-ku. Bergaul dan mengarahkan kemandirian belajar di UT dengan orang yang lebih tua mendidikku lebih bersikap santun dan hati-hati.
Dulu, sebelum kegiatan tutorial awal semester dilaksanakan seluruh tutor diberi pembekalan dari pihak Universitas Terbuka. Pada saat itu UPBJJ-UT Semarang mengambil tempat di BPG Srondol, Semarang (sekarang LPMP Jawa Tengah, red).  Masih ingat, kala itu fasilitator tiba-tiba memanggil aku untuk maju di forum umum. Aku tampil, walau sempat bingung. Aha! Ternyata fasilitator itu mengumumkan, bahwa aku adalah tutor termuda se Jawa Tengah! Ya, di usia 23 tahun aku menjadi tutor sekaligus instruktur IPA saat itu.
Seiring dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidik di Indonesia, akupun mengupayakan peningkatan kualitas memenuhi persyaratan dan harapan pemerintah. Pengajar SMA harus dengan ijazah S1, sedang saat itu aku baru berbekal akta III. Semua serba sulit untuk seukuran aku. Seorang guru golongan IId, gaji pas-pasan, dengan suami CPNS. Sementara aku harus tinggal bersama balita pertamaku, karena suami berdinas di Purworejo. Kami bersama hanya di Sabtu malam sampai Minggu malam.
Aku harus mendapatkan ijazah S1 sekaligus Akta IV. Mengambil kuliah reguler, jelas tidak mungkin! Menempuh perkuliahan tiap akhir pekan, berat bagiku! Untunglah pemerintah telah memfasilitasi perkuliahan jarak jauh di Universitas Terbuka. Aku harus sportif dengan belajar mandiri dan segera lulus. Itu tekadku! Aku resmi menjadi mahasiswa Universitas Terbuka UPBJJ-UT Semarang, jurusan Kependidikan Biologi.
UT memang sangat mengerti kebutuhan dan kondisi orang-orang seperti aku. Selain segala urusan regristasi dan regulasi yang mudah, kurikulum yang jelas, juga ketersediaan materi belajar yang bervareasi. Materi belajar berupa multimedia, termasuk bahan belajar cetak baik yang dilengkapi dengan kaset audio dan video/CD, siaran radio dan TV tersedia.
Diantara vareasi bahan ajar tersebut pilihan yang pas untukku adalah bahan belajar cetak (buku modul). Lantas, apakah aku membeli seluruh buku modul mata kuliah? Tentu tidak! Sekali lagi aku harus bisa mencapai tujuan dengan menyesuaikan kondisi. Bisa memenuhi kebutuhan susu anakku sudah merupakan anugerah tiada tara bagi keluarga kecil kami. Untuk memenuhi kebutuhan belajarku, aku bergerilya pada seniorku yang telah lulus untuk meminjam buku modul mereka. Aku ingat betul ketika harus menunggu 4 jam di rumah kakak tingkat demi sebuah buku modul. Maklumlah dia seorang pejabat penting di kota kami, saat itu sedang dinas luar kota. UT hebat, kan? Bisa menelorkan para pejabat dan orang penting di negeri ini. Oh, ya... kembali ke buku modul. Seingatku aku hanya mampu membeli 2 buah modul, yaitu Biostatistika dan Ilmu Nuklir. Itupun “terpaksa” membeli karena diantara senior tidak ada yang punya. Mereka tidak mengambil mata kuliah pilihan tersebut.
Aku begitu bersemangat kuliah. Lebih-lebih ketika aku membaca sekilas modul-modul pinjaman tersebut. Woow,... ternyata aku kembali mengakui bahwa UT betul-betul hebat! Betapa tidak, modul belajar di UT yang aku dapatkan ternyata ditulis oleh dosen-dosen favoritku saat aku ngambil jurusan Biologi Universitas Gadjah Mada. Aku tahu betul, beliau adalah orang orang hebat di negeri ini, bahkan di negeri orang! Inilah fakta seperti yang dikatakan oleh Budiwati, 2009 bahwa mulai tahun 2008 lebih dari 100 bahan ajar UT telah ditakar oleh para pakar dari berbagai Perguruan Tinggi terkemuka. Hasil penakaran menunjukkan, bahwa rata-rata bahan ajar baik dilihat dari kualitas setiap modul maupun keseluruhan berada pada katagori bagus. Effek positifnya Budiwati, 2009 menyatakan bahwa lebih dari 80% pakar yang menakar menyatakan akan menggunakan bahan ajar UT sebagai salah satu referensi mengajar. Aku makin yakin bahwa UT memang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Jangan mengira perjalanan belajarku berjalan mulus! Aku dirumah berteman anak laki-laki pertamaku yang saat itu berumur dua tahun. Dia begitu banyak menyita perhatianku saat di rumah. Sebisa mungkin aku harus bisa berperan sebagai ibu yang baik baginya. Selalu berupaya meninabobokkan ketika malam datang sesegera mungkin. Dan itu bukan perkara mudah bagiku mengingat anakku baru masanya riang melihat dunia. Minimal jam 21.00 WIB dia bisa tertidur, dengan begitu aku memulai dengan menyelesaikan tanggungan tugas sebagai guru, dilanjutkan dengan membaca modul kuliahku. Namun tak jarang anakku terbangun, dan yang terparah, buku yang aku pegang direbut dan dilempar ke lantai. “Ibu nggak boleh belajar! Ayo bobok!”, teriaknya. Lantas, kapan aku meluangkan waktu untuk belajar materi kuliah? Aku manusia biasa yang juga mengenal capai dan kantuk! Rasa ikhlas berjuang untuk keluarga yang membuat damai hati ini. Baiklah, aku akan bangun sebelum subuh buat belajar.
Aku belajar di UT betul-betul mandiri. Saat itu aku tidak mengikuti sistem tutorial seperti yang dilaksanakan mahasiswa sekarang. Belajar memahami modul secara mandiri, begitu pula menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan praktikum. Untuk hal yang terakhir aku sangat terbantu karena saat itu di instansi tempat aku mengajar aku mendapat tugas tambahan sebagai pengelola laboratorium Biologi.
Masih terbayang saat ujian semester aku mengikuti ujian dari jam pertama sampai jam ke 4. Soal-soal Biostatistik aku baca berulang-ulang, bahkan kertas soal sempat aku angkat tinggi, aku miringkan,... karena tidak terbaca olehku. Bukan karena tulisan yang tidak jelas, namun memang penglihatanku yang terlalu capai sedangkan kondisi ruangan mulai gelap. Ini memang resiko mengambil jumlah mata kuliah yang maksimal. Ini memang trik aku, ketika kuliah di UT. Sebagai langkah preventif bila ada nilai mata kuliah yang tidak keluar! Namun hal tersebut tidak pas bila diterapkan sekarang, selain UT menerapkan sistem paket regulasi kasus nilai yang tidak keluar mudah ditelusuri.
Alhamdulillah, aku diberi kemudahan dalam memahami isi modul perkuliahan dan pelaksanaan praktikum. Aku lulus dan mendapat ijazah FKIP Pendidikan Biologi tahun 1997, dengan IPK yang lumayan baik. Lumayan? Yah, tentu lumayan karena dengan IPK yang merupakan salah satu syarat mutlak memenuhi tersebut aku berhak mengikuti seleksi dan akhirnya lolos sebagai mahasiswa Bea Siswa Unggulan (BSU) Program Magister di Universitas Diponegoro tahun 2008. Kesekian kalinya aku kembali menyatakan bahwa UT memang hebat! Terbukti dengan kredibilitas lulusannya diperhitungkan oleh pemerintah dan Perguruan Tinggi ternama di negeri ini.
Kini, disela-sela aktivitas sebagai pengajar, aku masih aktif sebagai tutor yang menemani belajar mahasiswa PGSD UT Pokjar Blora UPBJJ-UT Semarang. Mahasiswaku sebagian lulusan SMA, guru SD, dan sarjana S1 lulusan Perguruan Tinggi lain. Kepada mereka aku berikan semangat dan gambaran agar lebih yakin menempuh kuliah di UT. Sering aku bertanya kepada mereka saat pertemuan awal tutorial, “Mengapa anda memilih bergabung di UT?” “Kerena UT memang hebat!”, kataku.

Sumber: 

Budiwati, Yulia, 2009. Universitas Terbuka, www.ut.ac.id
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Penulis : Alumni FKIP Pendidikan Biologi UT Tahun 1997, Tutor UPBJJ-UTJawa Tengah

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-31. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.” 


Written by : Siti Nurjanah | Blog Siti Nurjanah

Terimakasih telah membaca artikel: AKU BANGGA DENGAN UNIVERSITAS TERBUKA, KAMU?, yang ditulis oleh Siti Nurjanah, pada hari Sabtu, 27 Juni 2015. Jika pembaca ingin sebarluaskan artikel diatas, mohon sertakan sumber link asli di bawah ini. Kritik, saran maupun pertanyaan dapat anda sampaikan di kotak komentar atau SMS ke; 0858-7023-2258. Ok...thanks!.

Share artikel diatas: :

2 comments:

Jarwanto Jawara mengatakan... [Reply to comment]

Lewat ut banyak orang sukses!!!
Pendidikan yang berkualitas...

murdi hartono mengatakan... [Reply to comment]

Ngambil jurusan apa di ut pak jarwanto jawara

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support, Design & Published by: Creating Website | Johny Template | Mas Template | Proudly powered by Blogger
Copyright © 2014, Author: Siti Nurjanah - All Rights Reserved